Kewirausahaan Bagi Mahasiswa dan Dukungan Universitas

11 Mar 2009

Wageningen University and Research Centre (WUR) di Belanda sangat berambisi dalam mengembangkan bisnis di bidang Life Science and Agrotechnology (mikrobiologi, industri makanan, minuman, proteksi lingkungan dan teknik pertanian). Universitas ini mempunyai sejumlah lembaga riset dan juga mempunyai lembaga permodalan (bekerjasama dengan pemerintah Belanda dan pemerintah provinsi Gelderland) untuk membantu industri kecil dan wirausahawan baru yang ingin membangun bisnis baru berbasis Life Science dan Agrotechnology, dengan atau tanpa memanfaatkan teknologi - teknologi WUR.

Sekarang banyak perusahaan terkait bidang ini tumbuh di sekitar WUR, dan sampai saat ini boleh dibilang terbilang cukup sukses. Kompleks Food Valley cukup berkembang. Mahasiswa di bidang Life Science maupun Agricultural Engineering diarahkan untuk mengambil kuliah - kuliah bisnis (bahkan untuk Agricultural Engineering kuliah Technology, Innovation and Strategy adalah kuliah wajib). Dalam kuliah ini saya tergabung dalam kelompok yang mendapat tugas membangun rencana bisnis dan pemasaran bagi sebuah perusahaan Jepang yang ingin membangun bisnis teknologi membran di Uni Eropa. Tugas kelompok ini tugas dunia nyata, bukan sekadar simulasi. Kelompok lain mendapat tugas mengenai rencana bisnis di sekitar Wageningen, seperti perusahaan - perusahaan di sekitar Food Valley. Dengan mengerjakan tugas yang benar - benar nyata, tantangannya serasa berbeda.

Untuk mendukung kuliah dan tugas, pembicara - pembicara di dunia usaha diundang untuk sharing pengalaman. Seperti dijelaskan dalam postingan sebelumnya, kemarin sore kami mendapat kuliah dari seorang broker. Hari ini kami mendapat kuliah dari 3 pengusaha sekaligus. Mereka menceritakan kisah - kisah sukses dan kisah - kisah pahit yang mereka alami. Dukungan modal di awal - awal memang sangat krusial, karena bahkan di Belanda pun bank enggan mengucurkan dana untuk bisnis - bisnis baru berbasis inovasi ini. WUR dan Pemerintah Belanda membangun perusahaan khusus untuk pendanaan bisnis - bisnis ini. Akan tetapi ketiga pengusaha tersebut bilang bahwa kuncinya adalah fokus, dan mencurahkan perhatian kita pada bisnis yang kita bangun dan jangan patah semangat kalau banyak hambatan menghadang. Sebelum tamat, mahasiswa diharapkan paling tidak punya konsep bisnis dan rencana bisnis terkait dengan bidangnya.

Selain itu, kalau dia ingin bekerja pada orang lain sesudah tamat, WUR juga mempersiapan kuliah simulasi bernilai 12 ECTS (setara 8 SKS di Indonesia) terdiri dari Pelatihan Konsultasi Akademik (Academic Consultancy Training-/ACT 9 ECTS) dan Pengembangan Skill (3 ECTS, berupa modul - modul praktis seperti pengembangan karir, komunikasi interkultural, perencanaan proyek dan sebagainya), yang umumnya wajib bagi sebagian besar program Master di WUR. Pelatihan konsultasi Akademik ini adalah berupa pengerjaan proyek dunia nyata oleh mahasiswa, umumnya berupa pengembangan bisnis atau teknologi tertentu. Proyek ini disediakan dan dicari oleh WUR. Pemberi proyek turut memberi nilai, begitu juga teman - teman anda sekelompok turut memberi nilai kepada anda. Di sini, para mahasiswa master bukan hanya bersimulasi menjadi konsultan, tetapi juga proyek yang dikerjakan umumnya langsung dicari WUR dari industri. Kemampuan berinteraksi dalam sebuah kelompok yang anggotanya berasal dari berbagai negara, mengerjakan proyek sesuai target dan tenggat waktu dan mengelola anggaran proyek langsung diasah. Hal ini ditopang dengan internship wajib (24 ECTS atau setara 18 SKS) yang durasinya 4 bulan, yang bisa diganti dengan minor thesis kalau mau. Untuk yang belum punya pengalaman kerja, kombinasi ACT dan magang (internship) sangat bermanfaat untuk mengenal dunia kerja. Untuk yang sudah punya pengalaman kerja, kemampuan berinteraksi dalam tim yang berasal dari berbagai bangsa diasah. Selain itu, sebagian besar mata kuliah mempunyai tugas kelompok. Dengan demikian, keahlian yang diasah dan dipersiapkan untuk mahsiswa bukan hanya untuk siap berkembang (aspek teoretis, seperti umumnya sarjana), tetapi juga siap kerja atau membuka lapangan kerja. Social skill dikembangkan secara rutin dari awal kuliah sampai tamat.

Kita sering mendengar bahwa Universitas - Universitas terkenal seperti MIT dan Stanford di Amerika hampir semua bergerak kepada pengembangan model ini. Siapa yang tidak pernah dengar Silicon Valley. Membuat cluster khusus seperti Silicon Valley atau Food Valley ini sangat bermanfaat baik bagi industri maupun universitas. Nah, untuk ini, universitas harus menjalin hubungan yang kuat dan erat dengan industri, dan all out dalam mempersiapkan mahasiswanya. Kalau koneksi kurang kuat dengan industri, dari mana bahan untuk simulasi dunia nyata bagi mahasiswa? Selain itu, tampil all out dengan mempersiapkan mahasiswanya baik yang ingin kerja untuk orang lain maupun membuka lapangan kerja sendiri.

Saya berharap universitas dengan tradisi alumni yang kuat di Indonesia seperti ITB, UI, IPB dan UGM mempersiapkan diri ke arah ini. Uang yang diperoleh dari jalur ‘jalan tol’ sebagian dipergunakan untuk pengembangan bisnis. Kalau perlu anak pengusaha yang mau masuk ITB misalnya, bapaknya harus merekrut lulusan ITB juga untuk kerja di perusahaannya, minimal membantu permodalan alumni yang ingin membangun usaha. Kombinasi mahasiswa yang lancar otak dengan lancar dana cukup bagus untuk membangun jaringan, yang merupakan salah satu modal utama dalam bisnis. Mahasiswa yang berasal dari jalur umum (bukan jalan tol) harus banyak kuantitasnya, untuk mempertahankan kualitas. Kawasan industri tentu dikembangkan di sekitar kampus, yang berbasis ciri khas kampus tersebut (untuk ITB adalah teknologi). Khusus ITB, industri berbasis teknologi bisa dikembangkan di Jawa Barat. Alumni - alumni yang sukses sebagai profesional karir maupun pengusaha direkrut, minimal memberi proyek dunia nyata bagi alumni ITB, sehingga sebelum tamat sudah punya gambaran.

Bagaimana menurut teman - teman?

Wageningen, March 11, 2009


TAGS


-

Author

Follow Me