Indonesian Connection, David Case and Indonesian Dignity

11 Mar 2009

Kebetulan saya periode sekarang mengambil kuliah wajib mengenai Technology, Innovation and Strategy. Pada intinya kuliah ini membahas bagaimana mengelola inovasi dan berlatih membuat rencana bisnis berkaitan dengan bidang Life Science dan Teknologi Pertanian. Kemarin sore (March 10) kami mendapatkan kuliah dari pembicara tamu yang juga merupakan pengusaha di bidang broker inovasi. Bisnis beliau ini hanya sebagai broker antara investor dengan pengusaha kecil di bidang pertanian dan menyediakan layanan pendukung untuk bisnis - bisnis baru. Intinya, yang dijual oleh beliau ini hanyalah koneksi - koneksi bisnisnya (sebelum dia membangun bisnis baru) dan kejelian beliau melihat peluang kira - kira bisnis mana yang akan didukung untuk berkembang. Usaha kecil yang bergerak di bidang yang sama sekali baru akan sulit mendapat dukungan perbankan. Tugas beliau adalah menjadi broker bagi usaha kecil ini mencari sumber alternatif dan membangun rencana bisnis. Upah bagi beliau bisa bagian saham atau honor konsultan, tergantung kesepakatan dan kemampuan para pengusaha kecil tersebut. He makes a lot of money from these kind of things.

Ketika ditanya apa kunci sukses untuk bisnis beliau, beliau menjawab bahwa kunci sukses itu tidak bisa disamaratakan dan tergantung bagaimana individu tersebut mengelola kesempatan yang ada dan faktor lingkungan. Namun, menurut beliau seorang pengusaha harus pandai membedakan dan merangkai tiga hal, yang diringkas menjadi IEA dan ETI:

I - inspiration; bagaimana kita mengasah feeling bisnis kita, bagaimana kita menjaga mimpi kita

E- expression, bagaimana cara kita mengekspresikan ide bisnis maupun pendapat kita kepada orang lain

A- action, bagaimana kita mewujudkan mimpi mimpi kita

dan dalam pelaksanaannya kita harus bisa membedakan:

E-essence, apakah hal yang inti dari sebuah kejadian yang menimpa, apakah tujuan asal sebuah kejadian, apa inti semua ini. Intinya adalah apa hakikat yang terjadi…Bagaimana kita belajar dari semua peristiwa hidup yang terjadi di sekitar kita maupun yang terjadi terhadap kita, karena menurut beliau tidak ada kejadian yang sia - sia.

T- transparant, kejujuran dan transparansi, hal yang penting dalam bisnis

I- identification, apa sih yang sebenarnya ingin kita ingin capai, kekayaan, gaji tinggi, istri cantik dan lain - lain dan apakah hal itu membuat kita bahagia.

Beliau menjelaskan bahwa beliau selamat dari badai resesi sekarang ini. Menurut analisis beliau, resesi sekarang ini adalah ekses dari penyalahgunaan berlebihan essence dari uang sebagai alat tukar menjadi uang sebagai komoditi dalam perdagangan - perdagangan derivatif. Keserakahan manusia dalam suatu sistem biasanya akan dikoreksi sendiri oleh alam dan beliau menjelaskan krisis ini sudah ada tanda - tandanya sekitar 4 tahun yang lalu. Tidak ada underlying aasets yang cukup untuk menopang produk - produk derivatif (atau asetnya dijaminkan ganda, sehingga seakan - akan aset penjamin cukup) tersebut sehingga hanya tinggal menunggu waktu saja bagi produk - produk ‘buih’ tersebut untuk meletus. Menurut beliau, untuk selamat, kita harus melatih kemampuan kita membaca tanda - tanda kehidupan, dan hal ini harus senantiasa dilatih. Kita harus tahu kapan berhenti, jangan serakah, dan menurut beliau itu yang paling sulit dikendalikan (keserakahan dalam bisnis).

Kemampuan seorang insinyur atau sarjana teknik bukan hanya dilihat dari kemampuannya secara teoretis, tetapi juga bagaimana dia mengasah engineering judgment-nya, megasah feelingnya dalam permasalahan - permasalahan teknik, dan hal ini tidak diajarkan di sekolah teknik. Ini merupakan kombinasi dari pengalaman lapangan, intuisi, kreativitas diramu dengan kemampuan teknis si insinyur. Hal ini harus dilatih terus menerus. begitu juga dengan feeling kita membaca tanda -tanda dan peluang bisnis, kata beliau. Jika kita mengabaikan signals (tanda - tanda), maka krisis akan menimpa kita.

Dukungan permodalan, fokus, kerja keras dan tidak patah semangat ketika gagal merupakan kunci sukses, kata beliau. Tidak ada rumus umum untuk wirausaha. Jika anda yakin terhadap sesuatu dan anda telah menjatuhkan pilihan, lakukanlah dengan sungguh - sungguh (tanpa lupa berdoa), dengan kata lain be responsible to your choice, Itu saja kata beliau.

Berkaitan dengan bisnis beliau yang intinya menjual koneksi dan membaca peluang, kami berpikir bagaimana kiranya Pemerintah Indonesia memanfaatkan koneksi masyarakat - masyarakat Indonesia di luar negeri yang sedang belajar maupun yang sudah sukses, untuk menggerakkan ekonomi Indonesia. Mengenai kasus David di Singapura, kami tidak ingin terlibat perdebatan mengenai siapa yang salah. Namun, kami melihat proyek yang dikerjakan David mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Jika penelitian David terus dikembangkan, David bisa membangun bisnis baru di bidang teknologi pengawasan (surveillence) dan bisa menjual teknologinya kepada perusahaan - perusahaan yang bergerak di bidang ini (perusahaan penjual CCTV misalnya). Jika dikembangkan lebih jauh, aplikasi teknologi yang dikembangkan David bisa dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan militer dan intelejen. Nah, kami berharap Pemerintah Indonesia berani meminta laptop milik David kepada Pemerintah Singapura dan isinya sebelum David tewas. Penelitian David punya arti militer strategis, selain arti bisnis.

Menurut kami Pemerintah Indonesia sudah mulai saatnya untuk mendata potensi - potensi Indonesia yang ada di luar negeri. Orang seperti David ini harus diidentifikasi, dimulai dari para eks peserta olimpiade tersebut. Kalau perlu, inisiatif seperti yang dilakukan Duta Besar Indonesia di Belanda tahun kemarin patut ditiru sebagai langkah awal, seperti memancing para mahasiswa untuk membuat paper mengenai ide - ide yang bisa disumbangkan untuk Indonesia.

Memang sebagian besar lulusan luar negeri ada yang tidak kembali. Akan tetapi, potensi ini juga dapat dimanfaatkan. Pemerintah mungkin bisa mengembangkan dan memasyarakatkan filosofi para perantau Minangkabau. Perantau yang sukses mengundang sanak saudara atau teman - temannya untuk datang. Para perantau India di luar negeri juga punya prinsip seperti ini. Nah, bagi para mahasiswa Indonesia yang tidak pulang setelah selesai pendidikan di luar negeri, pendekatan personal dan kekeluargaan perlu dijalin pemerintah sehingga para ’saudara’ kita ini tidak lupa kepada tanah air. Pemerintah harus mendorong dan membantu mereka untuk sukses, sehingga mereka bisa membuka lapangan kerja dan mengundang orang Indonesia lain untuk bekerja di perusahaan mereka. Minimal mereka berkontribusi dengan mengirim uang ke Indonesia.

Kembali mengenai hubungan dengan negara tetangga di Asean, menurut kami harus ada langkah - langkah strategis untuk meningkatkan wibawa pemerintah. Bagaimanapun anggaran militer kita harus ditingkatkan. Daripada membiarkan ikan di perairan Indonesia dicuri nelayan asing, bagaimana kalau kita melakukan kerjasama dengan negara asing untuk pengadaan kapal kapal patroli laut. Pembiayaannya dengan membangun sebuah BUMN baru di bidang penangkapan ikan, dengan pengadaan kapal-kapal terbaru, operasinya didukung angkatan laut dan keuntungannya dipakai pemerintah untuk membangun angkatan laut Indonesia. Industri pesawat terbang nasional dibangkitkan kembali, jangan dilihat faktor ekonominya. Jika kurang pesanan dari luar, PT Dirgantara bisa diarahkan untuk membuat pesawat - pesawat angkut kecil untuk militer Indonesia. Bagaimanapun, industri pertahanan Indonesia harus terus dikembangkan, untuk menjaga wibawa negara ini. Kalau perlu kita membeli lisensi Sukhoi dan merevitalisasi PT Dirgantara Indonesia. Sebagian besar CPO Indonesia dimobilisasi sebagai biaya untuk pembelian Sukhoi dan lisensinya. Daripada mengenakan pajak ekspor yang belum tentu kembali kepada Industri Kelapa Sawit, kenapa tidak memberlakukan pajak berupa 5% kuantitas CPO Indonesia yang diproduksi dipakai sebagai biaya untuk memperkuat pertahanan militer Indonesia. Setiap CPO yang diproduksi, 5% diambil untuk membangun militer Indonesia melalui belanja senjata. Tanpa tentara yang kuat, Indonesia cenderung diremehkan di Asean. Bahkan kabarnya Vietnam sudah mempersiapkan senjata nuklir.

Selain itu, peningkatan produktivitas hasil pertnian Indonesia harus semakin digalakkan. Kita harus punya surplus makanan minimal untuk 2 tahun dan surplus energi minimal untuk 2 tahun. Kalau perlu hijrah ke enrgi nuklir, menurut kami pemerintah perlu mempertimbangkan kembali hal ini (hampir dilaksanakan oleh Pemerintah era Habibie). Untuk daerah yang aman gempa, kita perlu mengganti PLTD dengan PLTN kalau perlu.

Bagaimanapun, Indonesia punya posisi strategis. Kalau kita mengadakan parade militer dan memblok jalur masuk selat Malaka di perariran dekat Aceh, konsekuensinya bagi perdagangan dunia cukup fatal. Andai saja Indonesia bersatu dengan Malaysia, perariran ini akan kita kontrol penuh.

Bagaimana pendapat teman - teman?

Wageningen, March 11, 2009


TAGS


-

Author

Follow Me