Kebahagiaan Yang Lain

1 Mar 2009

Kemarin saya pergi ke daerah Centrum Wageningen bareng Pak Eko (http://triekowahyono.blogdetik.com) untuk beli daging dan aneka bumbu untuk masak rendang. Kali ini saya yang masak, this is Pariaman’s people kind of task :) . Sewaktu keluar dari Aldi Markt, Pak Eko terdiam sejenak melihat para konsumen yang selalu membawa anak balita ke dalam supermaket, dan si anak balita kemudian dituntun bareng ortunya di dalam kereta dorong si anak sendiri atau berjalan di samping orang tuanya (ortunya umumnya masih muda, para pasangan muda), terus begitu selesai belanja si anak dibonceng naik sepeda. Baik pria maupun wanita yang punya anak balita mayoritas mengajak anaknya berjalan - jalan pagi, sore menyusur trotoar dan jalur sepeda di sepanjang jalan ataupun berbelanja di supermarket.

Sebenarnya tidak ada bedanya dengan di Indonesia. Banyak orang tua khususnya pasangan muda yang rela menyisihkan waktunya untuk bercengkerama dengan anak - anaknya sebelum kerja maupun setelah pulang kerja. Walaupun banyak juga yang menugaskan hal ini kepada para pembantunya. Untuk yang tinggal di kompleks perumahan di Indonesia di mana istrinya tidak bekerja, banyak juga yang membawa anak balitanya ke mana - mana…

Bedanya cuma kalau trotoar di Indonesia penuh dengan para saudara kita yang mencari nafkah berjualan aneka makanan maupun berbagai jenis produk yang lain, pengemudi sepeda motor yang mengambil jalur pejalan kaki dan berbagai hambatan lainnya.

Saya belum punya anak. Saya membayangkan alangkah indahnya jika kelak saya punya anak, setiap hari saya dapat meluangkan waktu saya berjalan - jalan walaupun sebentar dengan anak saya. Menyusuri trotoar berjalan kaki, berbelanja ke supermarket atau sekadar mengajak mereka berkeliling. Insya Allah

Saya lihat keceriaan di muka anak - anak tersebut setiap saya keluar apartemen. Ada kebahagiaan sendiri melihat senyum dan celotehan anak - anak itu, walaupun bahasanya saya kurang paham. Melihat mereka mencoba memegang barang - barang di Supermarket, memperhatikan gerak - gerik para konsumen dari mata kecil mereka, terlihat sebuah pembelajaran sosialisasi primer sejak dini.

Untuk Jakarta dan banyak kota besar di Indonesia, tekanan kemacetan lalu lintas, trotoar dan banyak hambatan lain menjadikan waktu berjalan - jalan menyusuri kota bersama anak - anak kecil dengan aman adalah sebuah kemewahan. Bahkan di kompleks - kompleks perumahan tertentu yang keadaannya memungkinkan, trotoar sepi dan pagar - pagar tinggi menjulang (bahkan hingga menutupi rumahnya sehingga hanya kelihatan atapnya doang) menambah kesan sunyi. Di kompleks perumahan menengah (dan bawah) baru fenomena ini agak mudah dijumpai.

Teman - teman:

Jika anda punya anak nanti (atau sudah punya anak), seberapa banyak waktu yang ingin anda investasikan bersama anak - anak anda, atau yang anda delegasikan ke pembantu anda?

Bagaimana pendapat anda mengenai ketersediaan ruang publik untuk berjalan kaki (dengan nyaman) di Indonesia (trotoar, taman kota dll)?

Wageningen, 1 March


TAGS


-

Author

Follow Me