Dia Tinggal di Jalan Ngatimin No 25 di depan Gedung Serbaguna Tumini

1 Mar 2009

Belakangan ini di milis alumni ITB saya rajin mengkuti perkembangan polemik atawa pro kontra sumbangan alumni ITB kelas kakap ke kampus dan sebagai imbalannya nama para senior kami tersebut dijadikan nama gedung. Di luar negeri hal ini sudah biasa. Pro kontra kemudian mengerucut menjadi masalah sumbangan alumni tertentu dikaitkan dengan bencana alam dan kemanusiaan di salah satu kabupaten di Jawa Timur. Di sini kita tidak membahas masalah pro kontra di ITB.

Mengenai penamaan gedung kampus atau stadion olahraga sesuai nama sponsor memang adalah praktik yang biasa di luar negeri. Stadion sepakbola sering dinamai dengan nama sponsor utama.

Nah, berkaitan dengan postingan saya di bawah yang berjudul “Kebahagiaan Yang Lain” saya pikir teknik ini dapat juga dicoba untuk membangun fasilitas-fasilitas publik di daerah - daerah di Indonesia. Menurut saya hal ini fair - fair aja.

Misalnya konglomerat Bejo alumni SDN XYZ di sebuah daerah transmigrasi di Sumatera menyumbang 500 juta rupiah, terus uangnya dipakai untuk merenovasi beberapa ruang kelas SDN tersebut yang hampir rubuh. Ruang kelas baru tersebut dinamai Ruang Bejo I, Bejo II dst. Kemudian ada alumni SMP sebuah yayasan swasta kecil bernama Paijo yang sukses di Jakarta kemudian menyumbang Rp. 600 juta rupiah dan dipakai untuk menyediakan fasilitas komputer dan internet di SMP itu, merenovasi kamar mandi sekolah yang di bawah standar sanitasi, memperluas gedung perpustakaan dan alat praktikum IPA serta beasiswa bagi siswa kurang mampu.

Kemudian seorang TKI bernama Lae Togar sukses di luar negeri rindu kampung halaman dan pulang ke kampungnya di Indonesia. Dia lihat di ibukota kabupaten tidak ada lapangan bola standar bagi anak - anak. Dia membeli lahan 2 hektar kemudian dibangun lapangan sepakbola. Lapangan sepakbola itu kemudian Lapangan Sepakbola Lae Togar dan pengelolaannya diserahkan kepada Dinas Pemuda dan Olahraga setempat.

Upik Melly melihat tidak anak taman bermain anak- anak di kota tempat dia tinggal dahulu. Sewaktu pulang ke kampungnya dia membangun sebuah TK di kelurahan kemudian menyumbangkannya kepada pemerintah kelurahan/kecamatan. Sebagai rasa terima kasih, pemerntah menamakan TK itu dengan nama TK Upik Melly plus bonus nama jalan yang menuju TK tersebut dinamakan jalan Upik Melly.

Nah, teman - teman:

Bagaimana pendapat teman - teman kalau Pemerintah Daerah di Indonesia mengontak atau mengumpulkan sejumlah anak perantauan yang telah sukses untuk menyumbang membangun jalan, taman kota atau fasilitas publik lainnya. Para perantau tersebut membangun dulu, kemudian baru disumbangkan (build and transfer) untuk menghindari prasangka negatif kalau uang dulu yang diserahkan.

Mudah - mudahan dengan cara ini daerah dapat cepat terbangun?Bagaimana menurut anda?

Ada Gedung Kesenian Miss Gothic, Kebun Binatang Cyperus, Taman Buah - Buahan Tante Apel, Gedung Teater Aribicara, SMK Negeri Lies Surya, Kantor Dinas Seni dan Budaya Raksawardana, Gedung Satserse Kriminal Mr. Psycho, SDN I Babacilukba?

Nah, jika anda punya Rp. 10 milyar untuk disumbangkan membangun fasilitas publik di daerah dengan nama anda, fasilitas apakah yang anda pilih untuk dibangun?

Wageningen, 01 March


TAGS


-

Author

Follow Me