Mahasiswa juga Manusiabukan Flashdisk

21 Feb 2009

Beberapa hari ini saya mangkal di Perpustakaan WUR. Saya perhatikan banyak mahasiswa yang memenuhi perpustakaan selama study week (maklum, Senin 23 Feb sampai Jumat 27 Feb ini adalah exam week period 3). Iseng iseng saya mengadakan pengamatan kecil. Pertama dimulai pada diri sendiri, saya mencatat waktu start belajar sampai pikiran saya mengawang awang, mulai jenuh, menguap dan ingin keluar. Ternyata waktunya antara 25 50 menit setelah start belajar. Biasanya setelah itu saya jalan jalan sebentar ke lantai bawah atau minum teh/kopi,baru balik lagi 10 15 menit kemudian untuk belajar lagi. Kemudian saya ambil sampel pengamatan sejumlah mahasiswa bule, asia dan afrika di perpustakaan. Saya amati mereka meninggalkan perpustakaan untuk rehat juga antara menit ke 25 50.

Selama belajar di kelas juga saya perhatikan bahwa mulai menit ke-20 konsentrasi para mahasiswa agak berkurang dan uniknya tanpa melihat jam mereka dan para dosen tiba di titik jenuh untuk rehat dan sepakat untuk break sekitar menit ke 40. Inilah arti sebenarnya coffee break, minum untuk mengembalikan konsentrasi dan rehat. Kopi dipilih karena memiliki kafein yang bisa membantu konsentrasi. Sebenarnya rehat tidak perlu minum kopi kok. Beberapa mahasiswa melakukan rehat dengan lihat lihat pemandangan di luar dari kaca, cuci mata melihat makhluk-makhluk cantik dan lucu - lucu minum kopi D atau ngobrol mengenai sesuatu yang lucu lucu. Rehat yang murah (tidak keluar uang via Chipknip untuk beli minuman) dan juga menyegarkan.

Saya teringat dosen sosiologi saya waktu di ITB, yang mengatakan bahwa konsentrasi mahasiswa maksimal cuma 40 menit dan membatasi penyampaian teori di kelas hanya 30 - 40 menit untuk 2 jam tatap muka. Melihat tradisi break minum kopi di sini (Belanda) setiap 40 45 menit tatap muka dan melihat konsentrasi belajar mandiri (penelitian di perpustakaan) yang hanya efektif 25 50 menit, alangkah baiknya jika beban murid SD, SMP, SMA, dan mahasiswa di Indonesia disesuaikan dengan beban fisik rata rata murid atau mahasiswa Indonesia untuk berkonsentrasi mencerna pelajaran. Apalagi semakin berat materi, umumnya semakin cepat mengantuk. Hal ini dimaklumi sejumlah dosen saya di TL ITB yang dulu mentoleransi tidur di kelas untuk beberapa mata kuliah kelas berat (Peace deh buat Pak Enri dan Pak Harun he he he). Malah, dosen Kalkulus II dari Matematika membolehkan kami minum di kelas. Tetapi tidak semua dosen dan guru di Indonesia seperti itu. Banyak juga yang kejar target materi dan tanpa melihat bahwa di atas menit ke 50 mahasiswa hanya diam atau mencatat saja, yang mana laju pengendapan materi kuliah atau pelajaran di otaknya sudah steady state alias tidak ada perubahan dengan pertambahan waktu.

Bagaimana pendapat teman teman kalau di Indonesia setiap menit ke 40 ada waktu istirahat bagi para pelajar dan mahasiswa di kelas selama 10 15 menit?

Wageningen, Gelderland 21 February 2009


TAGS


-

Author

Follow Me