Kalau Jakarta Tenggelam Nanti, Siapa Yang Mikirin?

4 Jan 2009

Kemarin (Sabtu, 3 Januari 2009) saya ikut rombongan teman - teman jurusan Agricultural and Bioresource Engineering Wageningen University and Research jalan - jalan ke Rotterdam dan Leiden. Tujuan acara ini adalah mengenalkan Belanda (dan teknologinya) ke mahasiswa asing. Mumpung gratis, walaupun suhu udara di bawah 0 derajat celcius paginya, hajar terus, kapan lagi jalan - jalan gratis.

Biasalah, yang mereka unggulkan kalau enggak Pertanian ya Teknik Sipilnya. The journey began. Kami kumpul jam 8 pagi sesuai jadwal dan menunggu mobil sewaan dari Ede. Akhirnya berangkat jam 8.30 dari Forum Building WUR, Wageningen. Tujuan pertama langsung ke Rotterdam. Selama di jalan saya cuma melek setengah jam dan selebihnya bobo (masih ngantuk berat bo, malamnya main di www.viwawa.com sampai jam 2 malam :D ). Kami singgah di sebuah greenhouse modern di Belanda. Ini dia foto - fotonya:

greenhouse.JPGgreenhouse1.JPGgreenhouse2.JPG

Disusun dan ditata rapi

greenhouse-1.JPGgreenhouse3.JPG

Semua diperhitungkan termasuk kemudahan mobilitas angkat, susun, dan panen

Di Greenhouse ini kami langsung dipandu oleh pemilik perusahaan (langsung Direkturnya bro), yang menerangkan aspek manajemen greenhouse modern. Perhitungan ekonomi di sini benar - benar detail, termasuk keputusan menjual listrik yang dihasilkan pembangkit milik greenhouse ke pasar domestik, atau membeli listrik dari perusahaan listrik (dan hal ini bergantian tergantung harga listrik dan minyak), bahkan CO2 dari pembakaran pembangkit benar - benar digunakan kembali ke greenhouse (untuk tambahan suplai CO2 bagi tumbuhan, to accelerate growth). Kami belajar manajemen yang efisien untuk memonitor kerja pekerja (upah di Belanda mahal bo), efisiensi pekerja, sistem insentif untuk meningkatkan produktivitas dan manajemen pemasaran. Suatu hal yang perlu diperhatikan, tekanan untuk menjaga kualitas dan mengurangi penggunaan pestisida justru datang dari konsumen besar, yaitu supermaket - supermaket besar. Pemilik perusahaan menyatakan bahwa investasi greenhouse yang besar (200 Euro per meter persegi) membutuhkan manajemen dan perhitungan yang matang, mengingat harga komoditas pertanian yang cenderung menurun, biaya produksi yang cenderung meningkat setiap tahun serta tuntutan pasar dan konsumen yang semakin ketat. Teknologi yang handal harus didukung manajemen yang handal dan monitoring manusia yang handal pula…(it is the man behind the gun you must focus on, not the gun itself). Kunjungan diakhiri dengan acara foto -foto dan minum kopi. Sebelum minum kopi, si Pengusaha Belanda itu (yang juga punya ‘kebun’ di Spanyol, Portugal, selain tempat - tempat lain di Belanda) berpesan, “Jika kalian berbisnis, rencanakan dengan matang, pilih bidang yang sudah familiar dengan kita atau yang kita senangi, optimislah, kerja keras dan bersabarlah di awal“. Itu saja kata doski….

100_2184.JPG

Sebagian teman - teman sejurusan peserta tur yang sedang ngopi bareng habis keliling greenhouse (si Jimmy kelihatan giginya doang)……Gua nggak ada di foto, soalna yang motretna sayah…(Yang punya perusahaan adalah bule berambut pirang yang di belakang tengah berbaju hitam)

Sebenarnya kurang sesuai jika kita bandingkan pertanian Belanda dengan pertanian Indonesia dari sisi agronomi karena agroklimatnya sudah berbeda, tetapi yang kita pelajari di sini adalah manajemennya, bagaimana menjalankan usaha tani modern yang kompetitif di tengah globalisasi pasar pertanian. Upah buruh yang murah di Indonesia ternyata belum bisa menjadi keunggulan kompetitif kita (competitive advantage) untuk memajukan pertanian Indonesia. Ternyata di balik upah buruh yang penting adalah bagaimana menjaga produktivitas pekerja dan monitoringnya. Belanda dengan pajak yang tinggi serta upah buruh yang tinggi masih bisa menjadikan pertanian sebagai andalan ekspornya, didukung dengan manajemen usaha tani yang handal sebagai kunci suksesnya (kalau ngomong teknologi pertanian, USA dan negara Eropa lain seperti Perancis juga maju).

Selanjutnya kami ke Rotterdam untuk melihat bagaimana Kumpeni - Kumpeni ini mengatasi laut dan melindungi pusat pendapatan dan perputaran uang Belanda, kota Rotterdam. Orang Belanda sangat handal dalam teknik sipil, karena tantangan alam yang harus mereka hadapi mengakibatkan mereka harus berpikir keras bagaimana melindungi tempat tinggal mereka dan menyediakan prasarana pendukungnya. Mengatasi laut, mengatasi kiriman air dari Sungai Maas dan anak Sungai Rhine, men-support pertanian dan menyediakan air bersih dan sanitasi bagi penduduknya. Laut nggak bisa ditutup total karena ada air dari Sungai Maas dan Rhine yang harus dialirkan ke laut, so, bagaimana membuat benteng laut yang bisa mengkompromikan dua hal ini (nggak ditutup habis, tapi bisa mengatasi tinggi puncak air laut yang bisa menenggelamkan kota - kota Belanda sekaligus bisa juga membuang air sungainya ke laut). Nah, di Rotterdam, nggak mungkin konstruksi pintu air dilaksanakan sambil menutup atau mengganggu aktivitas pelabuhan (kalau pelabuhan Rotterdam ditutup, sama artinya dengan membunuh ekonomi Belanda, maklum putaran uang terbesar Belanda di kota ini). Di situlah tantangannya…

Kami dipandu oleh pegawai Dep PU dan Pengairannya Provinsi Zuid - Holland (Provinsi Holland Selatan). Pertama mereka menayangkan video bagaimana mengkonstruksi pintu laut Rotterdam yang sistem dry dock buka tutup itu. Duh, serasa belajar mata kuliah Structural Engineering lagi sewaktu S-1 dulu (salah satu kuliah Teknik Sipil umum yang sering menjadi momok bagi kami anak Teknik Lingkungan). Video ini cukup detail tetapi sangat menarik dan tidak membosankan, walaupun mirip kuliah. Lumayanlah, jadi sedikit banyak mengerti bagaimana prosedur mereka mulai dari merencanakan, mempersiapkan material yang dibutuhkan (bahan bangunan), dan tahapan - tahapan konstruksinya sampai selesai.

Pintu air ini didesain melindungi Rotterdam lebih dari 100 tahun ke depan selain dari siklus pasang laut 5 atau 7 tahunan juga untuk skenario terburuk global warming yang menaikkan tinggi muka air laut. Setelah penayangan video, kami melihat simulasi kerjanya. Berikut ini foto - fotonya….

100_2189.JPG 100_2195.JPG

100_2197.JPG 100_2204.JPG

Bangunan aslinya…. Kota Rotterdam dari Pantai

 

100_2199.JPG 100_2200.JPG 100_2202.JPG 100_2203.JPG

Simulasi pencegahan banjir dari naiknya luapan air laut. Pintu air ini enggak ditutup semua, ada space 80 cm sewaktu menutup (coba kira - kira kenapa disisakan space 80 cm dalam kenyataannya..ayo, yang anak Teknik Sipil/Teknik Pengairan/Teknik Lingkungan, coba jawab kuisnya he he he……). Intinya justru jangan ditutup habis, ayo kenapa (catatan:konstruksi baja telah memperhitungkan beban tekanan horizontal air dari dua arah)?

Masalah Rotterdam mirip Jakarta, ancaman banjir kiriman dari hulu juga ada, banjir dari laut apalagi, sementara intrusi air laut jelas menjadi ancaman suplai air bersih. Nah, bagaimana mengatur ini semua diperlukan manajemen yang handal. Sekitar setengah jam kami mendengar kuliah dari si pegawai tersebut tentang prinsip - prinsip manajemen pencegahan banjir dari dua arah (sungai di hulu dan air laut) di Belanda dan juga manajemen air bersih di Belanda. Lagi - lagi, dia menekankan pentingnya perencanaan teknis yang juga memperhitungkan resiko sosial dan pelibatan aktif masyarakat dalam desain, mengkomunikasikan secara baik detail proyek ke pembayar pajak sehingga mereka merasa memiliki. Satu lagi, mental yakin (kita pasti bisa) dan pantang menyerah, katanya.

Nah, kalau Jakarta, sekarang bagaimana ya, apakah 25, 50, 75 atau 100 tahun ke depan Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan sebagian besar Jakarta Barat dan Jakarta Timur masih ada? Seperti Rotterdam, uang berputar di negeri yang bernama Indonesia konon 70%nya di Jakarta ini.

Setelah menghadiri kuliah ‘Introduction to Civil and Environmental Engineering 101′ di Rotterdam, kami bertolak ke Leiden untuk belajar sedikit sejarah Belanda (di kota ini juga anda bisa mempelajari sejarah Indonesia dari dokumen - dokumen sejarah maupun peninggalan - peninggalan kuno tentang Indonesia yang banyak tersimpan di Leiden). Kami dipandu langsung seorang Gilde (pemandu wisata resmi) kota Leiden yang menunggu kami di bekas menara jaga Sungai Rhein di kota Leiden (benar - benar turis resmi he he he, dipandu ‘petugas resmi melulu’ dan gratis).

Leiden adalah kota lama sejak zaman Romawi. Si Gilde kemudian menerangkan sejarah kota Leiden yang pada tahun 800 an merupakan perkampungan petani di pinggir sungai Rhein, sejarah Count of Holland, sejarah menara jaga Sungai Rhine, sejarah industri kota Leiden dan deklarasi ‘kemerdekaan Belanda dari Spanyol’ oleh Pangeran Willem van Oranje I di Leiden.

Yang menarik adalah kisah 20 keluarga pengungsi asal Inggris (kelompok ini keturunannya mayoritas orang terkenal di USA) yang mengungsi ke Leiden tahun 1600 an. Kami keliling ke bekas perkampungan mereka. Kelompok ini adalah perintis koloni Inggris di daerah USA sekarang dan keturunannya sebagian adalah para pendiri awal kemerdekaan Amerika Serikat. Banyak keturunannya yang menjadi tokoh di USA sekarang, termasuk beberapa mantan Presiden. Ketika Si Gilde menerangkan bahwa leluhur si George ‘dilempar sepatu’ Bush juga berasal dari kelompok pengungsi Leiden, justru mahasiswa Belanda asal Leiden yang protes berat, dia nggak mau kota kelahirannya dikotori dan ‘dibuat malu’ dengan nama keluarga Bush ini, katanya. Si George Bush junior kurang populer juga di banyak kalangan bule - bule Belanda. Jangan - jangan dia bisa dilempari sepatu juga.

Kota ini kelahiran filsuf Belanda Erasmus dan pelukis Reimbardt. Di sini Universitas pertama Belanda didirikan oleh Pangeran Willem van Oranje I.

Kami keliling ke bangunan - bangunan tua kota Leiden, istana Count of Holland, Gereja Tua, Rumah Yatim Piatu, dan beberapa tempat pelaksanaan eksekusi hukuman. Dahulu, di Leiden masa 1800an ke bawah, bagi pencuri hukumnya dipotong tangan di lapangan eksekusi, mirip hukum Islam ternyata. Pembunuh hukumnya juga dibunuh. Hukuman terakhir yang dilaksanakan di depan umum tahun 1860 adalah hukuman mati bagi seorang anak remaja yang mencuri di rumah seorang petani dan membunuh anak perempuan si petani yang memergokinya.

Berikut ini beberapa foto - fotonya….

100_2210.JPG 100_2213.JPG

Gereja tua kota Leiden dari menara jaga Menara jaga Sungai Rhein Kota Leiden

100_2212.JPG 100_2211.JPG

Saya mejeng di pintu menara jaga Meneer Frans (jaket merah), Gilde kota Leiden

100_2207.JPG 100_2208.JPG

Pinggir anak Sungai Rhein, Leiden

100_2215.JPG100_2237.JPG

Gerbang masuk pintu jaga Menara Gereja ‘ menjelang malam hari’ (masih jam 5 kok)

100_22211.JPG 100_2241.JPG

Leiden kala senja (foto diambil dari coffee shop, pantulan blitz ke kaca) Kanan : Makan malam di restoran

Sewaktu makan malam di restoran, teman - teman saya banyak membahas perbandingan pendidikan teknik di Belanda dan negara mereka. Intinya, dari kemampuan SDM sebenarnya negara - negara Asia dan Afrika tidak ketinggalan, cukup merata dan ‘lebih rajin’. Cuma keunggulan pendidikannya di sini adalah budaya banyak bertanya, keterbukaan terhadap pertanyaan (tidak ada pertanyaan bodoh), mengerjakan ‘tugas’ secara detail, tuntas dan menyeluruh, serta budaya saya yakin/saya bisa dan optimisme. Jadi, yang berbeda bukan kemampuan pikirannya, tetapi pola pikirnya.

Jimmy dari Uganda juga menyatakan tidak semua hal dapat ditiru dari Belanda. Pelegalan homoseksual, pelegalan ganja, pelegalan pelacuran adalah hal yang menyimpang yang tidak usah ‘kita’ tiru. Hal - hal yang baik kita pelajari dan kita proyeksikan bagaimana caranya untuk menerapkan di tempat asal masing - masing. Hal - hal yang tidak sesuai kita tinggalkan.

Alhamdulillah, benar - benar perjalanan yang menyenangkan. Gratis, menambah wawasan dan juga refreshing ilmu pengetahuan (teknik pertanian, teknik sipil dan lingkungan serta sejarah/politik)

Pertanyaan:

1. Kira - kira kalau anda punya 15 milyar rupiah (1 juta Euro), apa rencana bisnis anda?

2. Kalau ibukota pemerintahan dipindah dari Jakarta, di mana sebaiknya menurut anda?

 

 

Wageningen, Gelderland, 04 Januari 2009

 

Catatan: Buat Cyperus, yang rajin belajar bahasa Inggrisnya….anda cocok belajar pertanian di sini.

Mungkin setelah master degree, bung Cyper bisa buat PhD thesis berjudul “Efek muka seram dalam pengendalian hama terpadu”

 

 

 

 


TAGS teknik sipil sejarah teknik pertanian


-

Author

Follow Me