Bejo

Assalamualaikum. Hello

Kewirausahaan Bagi Mahasiswa dan Dukungan Universitas

Filed under: Renungan — Murid at 10:23 pm on Wednesday, March 11, 2009

Wageningen University and Research Centre (WUR) di Belanda sangat berambisi dalam mengembangkan bisnis di bidang Life Science and Agrotechnology (mikrobiologi, industri makanan, minuman, proteksi lingkungan dan teknik pertanian). Universitas ini mempunyai sejumlah lembaga riset dan juga mempunyai lembaga permodalan (bekerjasama dengan pemerintah Belanda dan pemerintah provinsi Gelderland) untuk membantu industri kecil  dan wirausahawan baru yang ingin membangun bisnis baru berbasis Life Science dan Agrotechnology, dengan atau tanpa memanfaatkan teknologi - teknologi WUR.

Sekarang banyak perusahaan terkait bidang ini tumbuh di sekitar WUR, dan sampai saat ini boleh dibilang terbilang cukup sukses. Kompleks Food Valley cukup berkembang. Mahasiswa di bidang Life Science maupun Agricultural Engineering diarahkan untuk mengambil kuliah - kuliah bisnis (bahkan untuk Agricultural Engineering kuliah Technology, Innovation and Strategy adalah kuliah wajib). Dalam kuliah ini saya tergabung dalam kelompok yang mendapat tugas membangun rencana bisnis dan pemasaran bagi sebuah perusahaan Jepang yang ingin membangun bisnis teknologi membran di Uni Eropa. Tugas kelompok ini tugas dunia nyata, bukan sekadar simulasi. Kelompok lain  mendapat tugas mengenai rencana bisnis di sekitar Wageningen, seperti perusahaan - perusahaan di sekitar Food Valley. Dengan mengerjakan tugas yang benar - benar nyata, tantangannya serasa berbeda.

Untuk mendukung kuliah dan tugas, pembicara - pembicara di dunia usaha diundang untuk sharing pengalaman. Seperti dijelaskan dalam postingan sebelumnya, kemarin sore kami mendapat kuliah dari seorang broker. Hari ini kami mendapat kuliah dari 3 pengusaha sekaligus. Mereka menceritakan kisah - kisah sukses dan kisah - kisah pahit yang mereka alami. Dukungan modal di awal - awal memang sangat krusial, karena bahkan di Belanda pun bank enggan mengucurkan dana untuk bisnis - bisnis baru berbasis inovasi ini. WUR dan Pemerintah Belanda membangun perusahaan khusus untuk pendanaan bisnis - bisnis ini. Akan tetapi ketiga pengusaha tersebut bilang bahwa kuncinya adalah fokus, dan mencurahkan perhatian kita pada bisnis yang kita bangun dan jangan patah semangat kalau banyak hambatan menghadang. Sebelum tamat, mahasiswa diharapkan paling tidak punya konsep bisnis dan rencana bisnis terkait dengan bidangnya.

Selain itu, kalau dia ingin bekerja pada orang lain sesudah tamat, WUR juga mempersiapan kuliah simulasi bernilai 12 ECTS (setara 8 SKS di Indonesia) terdiri dari Pelatihan Konsultasi Akademik (Academic Consultancy Training-/ACT 9 ECTS) dan Pengembangan Skill (3 ECTS, berupa modul - modul praktis seperti pengembangan karir, komunikasi interkultural, perencanaan proyek dan sebagainya), yang umumnya wajib bagi sebagian besar program Master di WUR. Pelatihan konsultasi Akademik ini adalah berupa pengerjaan proyek dunia nyata oleh mahasiswa, umumnya berupa pengembangan bisnis atau teknologi tertentu. Proyek ini disediakan dan dicari oleh WUR. Pemberi proyek turut memberi nilai, begitu juga teman - teman anda sekelompok turut memberi nilai kepada anda. Di sini, para mahasiswa master bukan hanya bersimulasi menjadi konsultan, tetapi juga proyek yang dikerjakan umumnya langsung dicari WUR dari industri. Kemampuan berinteraksi dalam sebuah kelompok yang anggotanya berasal dari berbagai negara, mengerjakan proyek sesuai target dan tenggat waktu dan mengelola anggaran proyek langsung diasah. Hal ini ditopang dengan internship wajib (24 ECTS atau setara 18 SKS) yang durasinya 4 bulan, yang bisa diganti dengan minor thesis kalau mau. Untuk yang belum punya pengalaman kerja, kombinasi ACT dan magang (internship) sangat bermanfaat untuk mengenal dunia kerja. Untuk yang sudah punya pengalaman kerja, kemampuan berinteraksi dalam tim yang berasal dari berbagai bangsa diasah. Selain itu, sebagian besar mata kuliah mempunyai tugas kelompok. Dengan demikian, keahlian yang diasah dan dipersiapkan untuk mahsiswa bukan hanya untuk siap berkembang (aspek teoretis, seperti umumnya sarjana), tetapi juga siap kerja atau membuka lapangan kerja. Social skill dikembangkan secara rutin dari awal kuliah sampai tamat.

Kita sering mendengar bahwa Universitas - Universitas terkenal seperti MIT dan Stanford di Amerika hampir semua bergerak kepada pengembangan model ini. Siapa yang tidak pernah dengar Silicon Valley. Membuat cluster khusus seperti Silicon Valley atau Food Valley ini sangat bermanfaat baik bagi industri maupun universitas. Nah, untuk ini, universitas harus menjalin hubungan yang kuat dan erat dengan industri, dan all out dalam mempersiapkan mahasiswanya. Kalau koneksi kurang kuat dengan industri, dari mana bahan untuk simulasi dunia nyata bagi mahasiswa? Selain itu, tampil all out dengan mempersiapkan mahasiswanya baik yang ingin kerja untuk orang lain maupun membuka lapangan kerja sendiri.

Saya berharap universitas dengan tradisi alumni yang kuat di Indonesia seperti ITB, UI, IPB dan UGM mempersiapkan diri ke arah ini. Uang yang diperoleh dari jalur ‘jalan tol’ sebagian dipergunakan untuk pengembangan bisnis. Kalau perlu anak pengusaha yang mau masuk ITB misalnya, bapaknya harus merekrut lulusan ITB juga untuk kerja di perusahaannya, minimal membantu permodalan alumni yang ingin membangun usaha. Kombinasi mahasiswa yang lancar otak dengan lancar dana cukup bagus untuk membangun jaringan, yang merupakan salah satu modal utama dalam bisnis. Mahasiswa yang berasal dari jalur umum (bukan jalan tol) harus banyak kuantitasnya, untuk mempertahankan kualitas. Kawasan industri tentu dikembangkan di sekitar kampus, yang berbasis ciri khas kampus tersebut (untuk ITB adalah teknologi). Khusus ITB, industri berbasis teknologi bisa dikembangkan di Jawa Barat. Alumni - alumni yang sukses sebagai profesional karir maupun pengusaha direkrut, minimal memberi proyek dunia nyata bagi alumni ITB, sehingga sebelum tamat sudah punya gambaran.

Bagaimana menurut teman - teman?

Wageningen, March 11, 2009

Indonesian Connection, David Case and Indonesian Dignity

Filed under: Renungan — Murid at 9:33 pm on Wednesday, March 11, 2009

Kebetulan saya periode sekarang mengambil kuliah wajib mengenai Technology, Innovation and Strategy. Pada intinya kuliah ini membahas bagaimana mengelola inovasi dan berlatih membuat rencana bisnis berkaitan dengan bidang Life Science dan Teknologi Pertanian. Kemarin sore (March 10) kami mendapatkan kuliah dari pembicara tamu yang juga merupakan pengusaha di bidang broker inovasi. Bisnis beliau ini hanya sebagai broker antara investor dengan pengusaha kecil di bidang pertanian dan menyediakan layanan pendukung untuk bisnis - bisnis baru. Intinya, yang dijual oleh beliau ini hanyalah koneksi - koneksi bisnisnya (sebelum dia membangun bisnis baru) dan kejelian beliau melihat peluang kira - kira bisnis mana yang akan didukung untuk berkembang.  Usaha kecil yang bergerak di bidang yang sama sekali baru akan sulit mendapat dukungan perbankan. Tugas beliau adalah menjadi broker bagi usaha kecil ini mencari sumber alternatif  dan membangun rencana bisnis. Upah bagi beliau bisa bagian saham atau honor konsultan, tergantung kesepakatan dan kemampuan para pengusaha kecil tersebut. He makes a lot of money from these kind of things.

Ketika ditanya apa kunci sukses untuk bisnis beliau, beliau menjawab bahwa kunci sukses itu tidak bisa disamaratakan dan tergantung bagaimana individu tersebut mengelola kesempatan yang ada dan faktor lingkungan. Namun, menurut beliau seorang pengusaha harus pandai membedakan dan merangkai tiga hal, yang diringkas menjadi IEA dan ETI:

I - inspiration; bagaimana kita mengasah feeling bisnis kita, bagaimana kita menjaga mimpi kita

E- expression, bagaimana cara kita mengekspresikan ide bisnis maupun pendapat kita kepada orang lain

A- action, bagaimana kita mewujudkan mimpi mimpi kita

dan dalam pelaksanaannya kita harus bisa membedakan:

E-essence, apakah hal yang inti dari sebuah kejadian yang menimpa, apakah tujuan asal sebuah kejadian, apa inti semua ini. Intinya adalah apa hakikat yang terjadi…Bagaimana kita belajar dari semua peristiwa hidup yang terjadi di sekitar kita maupun yang terjadi terhadap kita, karena menurut beliau tidak ada kejadian yang sia - sia.

T- transparant, kejujuran dan transparansi, hal yang penting dalam bisnis

I- identification, apa sih yang sebenarnya ingin kita ingin capai, kekayaan, gaji tinggi, istri cantik dan lain - lain dan apakah hal itu membuat kita bahagia.

Beliau menjelaskan bahwa beliau selamat dari badai resesi sekarang ini. Menurut analisis beliau, resesi sekarang ini adalah ekses dari penyalahgunaan berlebihan essence dari uang sebagai alat tukar menjadi uang sebagai komoditi dalam perdagangan - perdagangan derivatif. Keserakahan manusia dalam suatu sistem biasanya akan dikoreksi sendiri oleh alam dan beliau menjelaskan krisis ini sudah ada tanda - tandanya sekitar 4 tahun yang lalu. Tidak ada underlying aasets yang cukup untuk menopang produk - produk derivatif  (atau asetnya dijaminkan ganda, sehingga seakan - akan aset penjamin cukup) tersebut sehingga hanya tinggal menunggu waktu saja bagi produk - produk ‘buih’ tersebut untuk meletus. Menurut beliau, untuk selamat, kita harus melatih kemampuan kita membaca tanda - tanda kehidupan, dan hal ini harus senantiasa dilatih. Kita harus tahu kapan berhenti, jangan serakah, dan menurut beliau itu yang paling sulit dikendalikan (keserakahan dalam bisnis).

Kemampuan seorang insinyur atau sarjana teknik bukan hanya dilihat dari kemampuannya secara teoretis, tetapi juga bagaimana dia mengasah engineering judgment-nya, megasah feelingnya dalam permasalahan - permasalahan teknik, dan hal ini tidak diajarkan di sekolah teknik. Ini merupakan kombinasi dari pengalaman lapangan, intuisi, kreativitas diramu dengan kemampuan teknis si insinyur. Hal ini harus dilatih terus menerus. begitu juga dengan feeling kita membaca tanda -tanda dan peluang bisnis, kata beliau. Jika kita mengabaikan signals (tanda - tanda), maka krisis akan menimpa kita.

Dukungan permodalan, fokus, kerja keras dan tidak patah semangat ketika gagal merupakan kunci sukses, kata beliau. Tidak ada rumus umum untuk wirausaha. Jika anda yakin terhadap sesuatu dan anda telah menjatuhkan pilihan, lakukanlah dengan sungguh - sungguh (tanpa lupa berdoa), dengan kata lain be responsible to your choice, Itu saja kata beliau.

Berkaitan dengan bisnis beliau yang intinya menjual koneksi dan membaca peluang, kami berpikir bagaimana kiranya Pemerintah Indonesia memanfaatkan koneksi masyarakat - masyarakat Indonesia di luar negeri yang sedang belajar maupun yang sudah sukses, untuk menggerakkan ekonomi Indonesia. Mengenai kasus David di Singapura, kami tidak ingin terlibat perdebatan mengenai siapa yang salah. Namun, kami melihat proyek yang dikerjakan David mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Jika penelitian David terus dikembangkan, David bisa membangun bisnis baru di bidang teknologi pengawasan (surveillence) dan bisa menjual teknologinya kepada perusahaan - perusahaan yang bergerak di bidang ini (perusahaan penjual CCTV misalnya). Jika dikembangkan lebih jauh, aplikasi teknologi yang dikembangkan David bisa dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan militer dan intelejen. Nah, kami berharap Pemerintah Indonesia berani meminta laptop milik David kepada Pemerintah Singapura dan isinya sebelum David tewas. Penelitian David punya arti militer strategis, selain arti bisnis.

Menurut kami Pemerintah Indonesia sudah mulai saatnya untuk mendata potensi - potensi Indonesia yang ada di luar negeri. Orang seperti David ini harus diidentifikasi, dimulai dari para eks peserta olimpiade tersebut. Kalau perlu, inisiatif seperti yang dilakukan Duta Besar Indonesia di Belanda tahun kemarin patut ditiru sebagai langkah awal, seperti memancing para mahasiswa untuk membuat paper mengenai ide - ide yang bisa disumbangkan untuk Indonesia.

Memang sebagian besar lulusan luar negeri ada yang tidak kembali. Akan tetapi, potensi ini juga dapat dimanfaatkan. Pemerintah mungkin bisa mengembangkan dan memasyarakatkan filosofi para perantau Minangkabau. Perantau yang sukses mengundang sanak saudara atau teman - temannya untuk datang. Para perantau India di luar negeri juga punya prinsip seperti ini. Nah, bagi para mahasiswa Indonesia yang tidak pulang setelah selesai pendidikan di luar negeri, pendekatan personal dan kekeluargaan perlu dijalin pemerintah sehingga para ’saudara’ kita ini tidak lupa kepada tanah air. Pemerintah harus mendorong dan membantu mereka untuk sukses, sehingga mereka bisa membuka lapangan kerja dan mengundang orang Indonesia lain untuk bekerja di perusahaan mereka. Minimal mereka berkontribusi dengan mengirim uang ke Indonesia.

Kembali mengenai hubungan dengan negara tetangga di Asean, menurut kami harus ada langkah - langkah strategis untuk meningkatkan wibawa pemerintah. Bagaimanapun anggaran militer kita harus ditingkatkan. Daripada membiarkan ikan di perairan Indonesia dicuri nelayan asing, bagaimana kalau kita melakukan kerjasama dengan negara asing untuk pengadaan kapal kapal patroli laut. Pembiayaannya dengan membangun sebuah BUMN baru di bidang penangkapan ikan, dengan pengadaan kapal-kapal terbaru, operasinya didukung angkatan laut dan keuntungannya dipakai pemerintah untuk membangun angkatan laut Indonesia. Industri pesawat terbang nasional dibangkitkan kembali, jangan dilihat faktor ekonominya. Jika kurang pesanan dari luar, PT Dirgantara bisa diarahkan untuk membuat pesawat - pesawat angkut kecil untuk militer Indonesia. Bagaimanapun, industri pertahanan Indonesia harus terus dikembangkan, untuk menjaga wibawa negara ini. Kalau perlu kita membeli lisensi Sukhoi dan merevitalisasi PT Dirgantara Indonesia. Sebagian besar CPO Indonesia dimobilisasi sebagai biaya untuk pembelian Sukhoi dan lisensinya. Daripada mengenakan pajak ekspor yang belum tentu kembali kepada Industri Kelapa Sawit, kenapa tidak memberlakukan pajak berupa 5% kuantitas CPO Indonesia yang diproduksi dipakai sebagai biaya untuk memperkuat pertahanan militer Indonesia. Setiap CPO yang diproduksi, 5% diambil untuk membangun militer Indonesia melalui belanja senjata. Tanpa tentara yang kuat, Indonesia cenderung diremehkan di Asean. Bahkan kabarnya Vietnam sudah mempersiapkan senjata nuklir.

Selain itu, peningkatan produktivitas hasil pertnian Indonesia harus semakin digalakkan. Kita harus punya surplus makanan minimal untuk 2 tahun dan surplus energi minimal untuk 2 tahun. Kalau perlu hijrah ke enrgi nuklir, menurut kami pemerintah perlu mempertimbangkan kembali hal ini (hampir dilaksanakan oleh Pemerintah era Habibie). Untuk daerah yang aman gempa, kita perlu mengganti PLTD dengan PLTN kalau perlu.

Bagaimanapun, Indonesia punya posisi strategis. Kalau kita mengadakan parade militer dan memblok jalur masuk selat Malaka di perariran dekat Aceh, konsekuensinya bagi perdagangan dunia cukup fatal. Andai saja Indonesia bersatu dengan Malaysia, perariran ini akan kita kontrol penuh.

Bagaimana pendapat teman - teman?

Wageningen, March 11, 2009

Dilema Barang Publik - Perlukah Pemda Dikelola Konsultan?

Filed under: Renungan — Murid at 7:08 pm on Wednesday, March 11, 2009

Tulisan kami sebelumnya membahas mengenai ide bagaimana cara membiayai sebagian belanja publik pemerintah daerah melalui hibah dengan imbalan pencantuman nama donor pada fasilitas publik yang dihibahkan. Seperti masukan sejumlah teman pada kolom komentar pada tulisan tersebut, setelah barang tersebut diserahterimakan, tentunya pemeliharaannya harus dipikirkan.

In our humble opinion, pemeliharaan barang - barang milik umum (jalan, sekolah, klinik dan sebagainya) memang harus dari awal dipikirkan sebelum konsep hibah itu dijalankan. Seperti diskusi pada tulisan sebelumnya, pembiayaan bisa dengan membangun dana khusus untuk itu yang dikumpulkan dari :
-uang sewa penggunaan fasilitas publik tersebut
-yayasan yang dibuat khusus oleh donatur (dan Pemda) untuk menampung dana pemeliharaan
-anggaran khusus yang dianggarkan dari belanja daerah

Kami mendapat masukan dari teman yang berpengalaman bekerja di LSM yang banyak membangun fasilitas publik bagi komunitas menengah ke bawah. Teman tersebut berkomentar bahwa hibah yang 100% berasal dari donor cenderung tidak terpelihara, karena kurangnya rasa memiliki yang timbul dari pihak penerima hibah. Beliau menyarankan bahwa bentuk yang berhasil adalah keterlibatan sebagain besar masyarakat melalui sumbangan tenaga atau biaya sehingga ada rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas yang dibangun donor tersebut. Tentunya, dengan konsep ini Pemda juga harus menyertakan sedikit dana partisipasi.

Kembali mengenai topik pemeliharaan barang milik publik, Kami juga berdiskusi dengan seorang teman mengenai konsep pemberian alas hak atas barang milik publik (property right). Tidak adanya alas hak khusus terhadap sebuah individu atau institusi terhadap barang milik publik menyebabkan barang milik publik tersebut cenderung kurang terpelihara. Teorinya, jika ada yang memegang hak atas sekolah (ada alas hak), dia akan merasa memiliki atas sekolah tersebut, menimbulkan suatu kewajiban untuk memelihara. Namun, dalam kasus HPH hutan, hal ini tidak berlaku di Indonesia (anda tahu sendiri kisahnya).

Pemerintah daerah tidak punya ‘bagian’ terhadap pajak penghasilan, padahal ini sumber pendapatan terbesar pemerintah. Jadi kalau kita mengharapkan pemerintah daerah mandiri seutuhnya dari pendanaan pemerintah pusat, hal ini akan sulit sekali dicapai. Mekanisme pendanaan melalui dana alokasi umum (DAU) masih dibutuhkan. Kami berpikir bagaimana kalau pemerintah pusat menetapkan bahwa minimal 33% pajak penghasilan yang diterima dari suatu daerah (badan ataupun pribadi) langsung menjadi hak pemerintah daerah di mana komposisinya 2/3 untuk pemerintah kabupaten dan 1/3 untuk pemerintah provinsi. Hal ini kami harapkan akan merangsang pemerintah daerah mencari investor untuk membangun daerahnya dan juga menjamin ketersediaan dana yang berasal dari pajak. Untuk daerah kaya sumber daya alam, otomatis mereka mendapat bagian 1/3 pajak penghasilan badan dari perusahaan - perusahaan tersebut, otomatis. Bagaimana pendapat teman - teman sekalian?

Selain itu, waktu dahulu kami masih bekerja, ada ide dari teman di lapangan mengenai apakah sebaiknya pemerintah daerah dikelola konsultan saja? Pola pengelolaan Pemda dikelola secara bisnis dan unit Pemerintah daerah dianggap sebagai sebuah unit usaha dari Pemerintah RI? Tentunya pemimpin yang dipilih juga yang punya jiwa dagang dan punya kemampuan menjual potensi daerah. Jika sebuah daerah gagal, sebuah konsultan bisnis bisa diundang untuk memaparkan rencana bisnis bagi daerah tersebut, dan evaluasi otonomi daerah didasarkan pada keberhasilan pemerintah daerah menjalankan ‘bisnisnya’ itu. Jika neraca negatif 7 tahun berturut - turut, Pemda bisa dilikuidasi. Bagaimana menurut teman - teman?

Semoga Indonesia menuju ke arah yang lebih baik…..

Wageningen, March 2009

Dia Tinggal di Jalan Ngatimin No 25 di depan Gedung Serbaguna Tumini

Filed under: Renungan — Murid at 5:35 pm on Sunday, March 1, 2009

Belakangan ini di milis alumni ITB saya rajin mengkuti perkembangan polemik atawa pro kontra sumbangan alumni ITB kelas kakap ke kampus dan sebagai imbalannya nama para senior kami tersebut dijadikan nama gedung. Di luar negeri hal ini sudah biasa. Pro kontra kemudian mengerucut menjadi masalah sumbangan alumni tertentu dikaitkan dengan bencana alam dan kemanusiaan di salah satu kabupaten di Jawa Timur. Di sini kita tidak membahas masalah pro kontra di ITB.

Mengenai penamaan gedung kampus atau stadion olahraga sesuai nama sponsor memang adalah praktik yang biasa di luar negeri. Stadion sepakbola sering dinamai dengan nama sponsor utama.

Nah, berkaitan dengan postingan saya di bawah yang berjudul “Kebahagiaan Yang Lain” saya pikir teknik ini dapat juga dicoba untuk membangun fasilitas-fasilitas publik di daerah - daerah di Indonesia. Menurut saya hal ini fair - fair aja.

Misalnya konglomerat Bejo alumni SDN XYZ di sebuah daerah transmigrasi di Sumatera menyumbang 500 juta rupiah, terus uangnya dipakai untuk merenovasi beberapa ruang kelas SDN tersebut yang hampir rubuh. Ruang kelas baru tersebut dinamai Ruang Bejo I, Bejo II dst. Kemudian ada alumni SMP sebuah yayasan swasta kecil bernama Paijo yang sukses di Jakarta kemudian menyumbang Rp. 600 juta rupiah dan dipakai untuk menyediakan fasilitas komputer dan internet di SMP itu, merenovasi kamar mandi sekolah yang di bawah standar sanitasi, memperluas gedung perpustakaan dan alat praktikum IPA serta beasiswa bagi siswa kurang mampu.

Kemudian seorang TKI bernama Lae Togar sukses di luar negeri rindu kampung halaman dan pulang ke kampungnya di Indonesia. Dia lihat di ibukota kabupaten tidak ada lapangan bola standar bagi anak - anak. Dia membeli lahan 2 hektar kemudian dibangun lapangan sepakbola. Lapangan sepakbola itu kemudian Lapangan Sepakbola Lae Togar dan pengelolaannya diserahkan kepada Dinas Pemuda dan Olahraga setempat.

Upik Melly melihat tidak anak taman bermain anak- anak di kota tempat dia tinggal dahulu. Sewaktu pulang ke kampungnya dia membangun sebuah TK di kelurahan kemudian menyumbangkannya kepada pemerintah kelurahan/kecamatan. Sebagai rasa terima kasih, pemerntah menamakan TK itu dengan nama TK Upik Melly plus bonus nama jalan yang menuju TK tersebut dinamakan jalan Upik Melly.

Nah, teman - teman:

Bagaimana pendapat teman - teman kalau Pemerintah Daerah di Indonesia mengontak atau mengumpulkan sejumlah anak perantauan yang telah sukses untuk menyumbang membangun jalan, taman kota atau fasilitas publik lainnya. Para perantau tersebut membangun dulu, kemudian baru disumbangkan (build and transfer) untuk menghindari prasangka negatif kalau uang dulu yang diserahkan.

Mudah - mudahan dengan cara ini daerah dapat cepat terbangun?Bagaimana menurut anda?

Ada Gedung Kesenian Miss Gothic, Kebun Binatang Cyperus, Taman Buah - Buahan Tante Apel, Gedung Teater Aribicara, SMK Negeri Lies Surya, Kantor Dinas Seni dan Budaya Raksawardana, Gedung Satserse Kriminal Mr. Psycho, SDN I Babacilukba?

Nah, jika anda punya Rp. 10 milyar untuk disumbangkan membangun fasilitas publik di daerah dengan nama anda, fasilitas apakah yang anda pilih untuk dibangun?

Wageningen, 01 March

Kebahagiaan Yang Lain

Filed under: Renungan — Murid at 3:46 pm on Sunday, March 1, 2009

Kemarin saya pergi ke daerah Centrum Wageningen bareng Pak Eko  http://triekowahyono.blogdetik.com) untuk beli daging dan aneka bumbu untuk masak rendang. Kali ini saya yang masak, this is Pariaman’s people kind of task :) . Sewaktu keluar dari Aldi Markt, Pak Eko terdiam sejenak melihat para konsumen yang selalu membawa anak balita ke dalam supermaket, dan si anak balita kemudian dituntun bareng ortunya di dalam kereta dorong si anak sendiri atau berjalan di samping orang tuanya (ortunya umumnya masih muda, para pasangan muda), terus begitu selesai belanja si anak dibonceng naik sepeda. Baik pria maupun wanita yang punya anak balita mayoritas mengajak anaknya berjalan - jalan pagi, sore menyusur trotoar dan jalur sepeda di sepanjang jalan ataupun berbelanja di supermarket.

Sebenarnya tidak ada bedanya dengan di Indonesia. Banyak orang tua khususnya pasangan muda yang rela menyisihkan waktunya untuk bercengkerama dengan anak - anaknya sebelum kerja maupun setelah pulang kerja. Walaupun banyak juga yang menugaskan hal ini kepada para pembantunya. Untuk yang tinggal di kompleks perumahan di Indonesia di mana istrinya tidak bekerja, banyak juga yang membawa anak balitanya ke mana - mana…

Bedanya cuma kalau trotoar di Indonesia penuh dengan para saudara kita yang mencari nafkah berjualan aneka makanan maupun berbagai jenis produk yang lain, pengemudi sepeda motor yang mengambil jalur pejalan kaki dan berbagai hambatan lainnya.

Saya belum punya anak. Saya membayangkan alangkah indahnya jika kelak saya punya anak, setiap hari saya dapat meluangkan waktu saya berjalan - jalan walaupun sebentar dengan anak saya. Menyusuri trotoar berjalan kaki, berbelanja ke supermarket atau sekadar mengajak mereka berkeliling. Insya Allah

Saya lihat keceriaan di muka anak - anak tersebut setiap saya keluar apartemen. Ada kebahagiaan sendiri melihat senyum dan celotehan anak - anak itu, walaupun bahasanya saya kurang paham. Melihat mereka mencoba memegang barang - barang di Supermarket, memperhatikan gerak - gerik para konsumen dari mata kecil mereka, terlihat sebuah pembelajaran sosialisasi primer sejak dini.

Untuk Jakarta dan banyak kota besar di Indonesia, tekanan kemacetan lalu lintas, trotoar dan banyak hambatan lain menjadikan waktu berjalan - jalan menyusuri kota bersama anak - anak kecil dengan aman adalah sebuah kemewahan. Bahkan di kompleks - kompleks perumahan tertentu yang keadaannya memungkinkan, trotoar sepi dan pagar - pagar tinggi menjulang (bahkan hingga menutupi rumahnya sehingga hanya kelihatan atapnya doang) menambah kesan sunyi. Di kompleks perumahan menengah (dan bawah) baru fenomena ini agak mudah dijumpai.

Teman - teman:

Jika anda punya anak nanti (atau sudah punya anak), seberapa banyak waktu yang ingin anda investasikan bersama anak - anak anda, atau yang anda delegasikan ke pembantu anda?

Bagaimana pendapat anda mengenai ketersediaan ruang publik untuk berjalan kaki (dengan nyaman) di Indonesia (trotoar, taman kota dll)?

Wageningen, 1 March

Mahasiswa juga Manusia……bukan Flashdisk

Filed under: Renungan — Murid at 10:09 pm on Saturday, February 21, 2009

 

Beberapa hari ini saya mangkal di Perpustakaan WUR. Saya perhatikan banyak mahasiswa yang memenuhi perpustakaan selama study week (maklum, Senin 23 Feb sampai Jum’at 27 Feb ini adalah exam week period 3). Iseng – iseng saya mengadakan pengamatan kecil. Pertama dimulai pada diri sendiri, saya mencatat waktu start belajar sampai pikiran saya mengawang – awang, mulai jenuh, menguap dan ingin keluar. Ternyata waktunya antara 25 – 50 menit setelah start belajar. Biasanya setelah itu saya jalan – jalan sebentar ke lantai bawah atau minum teh/kopi,baru balik lagi 10 – 15 menit kemudian untuk belajar lagi. Kemudian saya ambil sampel pengamatan sejumlah mahasiswa bule, asia dan afrika di perpustakaan. Saya amati mereka meninggalkan perpustakaan untuk rehat juga antara menit ke 25 – 50.

 

Selama belajar di kelas juga saya perhatikan bahwa mulai menit ke-20 konsentrasi para mahasiswa agak berkurang dan uniknya tanpa melihat jam mereka dan para dosen tiba di titik jenuh untuk rehat dan sepakat untuk break sekitar menit ke 40. Inilah arti sebenarnya coffee break, minum untuk mengembalikan konsentrasi dan rehat. Kopi dipilih karena memiliki kafein yang bisa membantu konsentrasi. Sebenarnya rehat tidak perlu minum kopi kok. Beberapa mahasiswa melakukan rehat dengan lihat – lihat pemandangan di luar dari kaca, cuci mata melihat makhluk-makhluk cantik dan lucu - lucu minum kopi D atau ngobrol mengenai sesuatu yang lucu – lucu. Rehat yang murah (tidak keluar uang via Chipknip untuk beli minuman) dan juga menyegarkan.

 

Saya teringat dosen sosiologi saya waktu di ITB, yang mengatakan bahwa konsentrasi mahasiswa maksimal cuma 40 menit dan membatasi penyampaian teori di kelas hanya 30 - 40 menit untuk 2 jam tatap muka. Melihat tradisi break minum kopi di sini (Belanda) setiap 40 – 45 menit tatap muka dan melihat konsentrasi belajar mandiri (penelitian di perpustakaan) yang hanya efektif 25 – 50 menit, alangkah baiknya jika beban murid SD, SMP, SMA, dan mahasiswa di Indonesia disesuaikan dengan beban fisik rata – rata murid atau mahasiswa Indonesia untuk berkonsentrasi mencerna pelajaran. Apalagi semakin berat materi, umumnya semakin cepat mengantuk. Hal ini dimaklumi sejumlah dosen saya di TL ITB yang dulu mentoleransi tidur di kelas untuk beberapa mata kuliah ‘kelas berat’ (Peace deh buat Pak Enri dan Pak Harun he he he). Malah, dosen Kalkulus II dari Matematika membolehkan kami minum di kelas. Tetapi tidak semua dosen dan guru di Indonesia seperti itu. Banyak juga yang kejar target materi dan tanpa melihat bahwa di atas menit ke 50 mahasiswa hanya diam atau mencatat saja, yang mana laju pengendapan materi kuliah atau pelajaran di otaknya sudah ‘steady state’ alias tidak ada perubahan dengan pertambahan waktu.

 

Bagaimana pendapat teman – teman kalau di Indonesia setiap menit ke 40 ada waktu istirahat bagi para pelajar dan mahasiswa di kelas selama 10 – 15 menit?

 

Wageningen, Gelderland 21 February 2009

Bacalah, dan dunia terbuka kepadamu…. (Wacana Bahasa Pengantar Pendidikan Tinggi di Indonesia)

Filed under: Renungan — Murid at 1:49 pm on Saturday, February 7, 2009

Nabi Muhammad pernah menyuruh sejumlah sahabat untuk mempelajari bahasa non Arab sebagai media dakwah dan pengetahuan dan mengejar pengetahuan walaupun sampai ke negeri China. Al Qur’an juga menyatakan bahwa Tuhan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu di antara manusia. Dan umat Islam disuruh membaca sebagai ayat pertama Al Qur’an sebagai jendela untuk mengenal kehidupan ini. Dan syarat utama membaca adalah mengerti bahasa. Para tabiin di era awal Islam banyak yang ahli bahasa Yunani (bahasa sains kala itu) dan banyak menerjemahkan buku - buku berbahasa Yunani dan menyumbang era keemasan Islam di awal perkembangannya.

Selama ini saya perhatikan sebenarnya kualitas berbahasa Inggris orang Indonesia yang ada di luar negeri kebanyakan lebih baik dari orang Malaysia, India, negara - negara Afrika dan Filipina, terutama dari segi adaptasi logat dan kefasihan, cuma dari segi kepercayaan diri berkomunikasi kita kurang.

Saya perhatikan negeri - negeri Afrika banyak yang telah menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di perguruan tinggi di negeri mereka. Hal ini memudahkan adaptasi mereka di Eropa. Bahkan untuk tingkat SMU/SMA beberapa negara Afrika memakai bahasa Inggris sebagai pengantar. Kalau India dan Malaysia sudah dari dulu menerapkannya.

Andai saja pendidikan tinggi di Indonesia (untuk level setelah SMU) menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar mulai tahun 2014, daya saing dunia pendidikan Indonesia akan meningkat. Program ini dapat dimulai dari 5 besar perguruan tinggi negeri dan 5 besar perguruan tinggi swasta di Indonesia secara bertahap mulai 2014.  Keuntungannya antara lain:

1. Memperluas kesempatan kerja banyak sarjana Indonesia di luar negeri (di era globalisasi dan terbatasnya kesempatan kerja di dalam negeri, hal ini baik bagi semua pihak, yaitu TKI, pekerja di dalam negeri, dan pemerintah RI).

2. Memperluas kesempatan mahasiswa Indonesia memperoleh beasiswa ke luar negeri

3. Meningkatkan motivasi dan pemahaman para siswa SD, SMP dan SMU/SMK dalam mempelajari bahasa Inggris

4. Membantu meningkatkan mutu dosen Indonesia, merangsang berkompetisi secara global melalui dan seleksi alami terhadap mutu dosen lokal. Dengan terbiasanya komunikasi memakai bahasa Inggris di dunia akademik maka hambatan bahasa dalam penulisan paper - paper ilmiah agak berkurang

5. Secara umum adalah meningkatkan daya saing SDM Indonesia terutama di era globalisasi ini.

Kita ingin negeri ini punya banyak pahlawan devisa terdidik di luar negeri seperti India, sehingga bakat - bakat terbaik Indonesia bisa berkembang di tempat yang sesuai dan menerima kompensasi yang kompetitif. Dengan rasa kekeluargaan bangsa Asia yang tinggi, hal ini baik dalam jangka panjang terhadap Indonesia.

Bagaimana tanggapan teman - teman? Jangan kalah sama India dan Filipina hanya karena faktor bahasa

Wageningen, 07 February 2009

Apakah Anda Butuh Kumpul Bareng Dblogger?

Filed under: Renungan — Murid at 7:31 pm on Tuesday, February 3, 2009

Aduuh, mohon maaf teman – teman, saya sudah lama tidak blogwalking dan udah lama menghilang dari peredaran dikarenakan banyak tugas kuliah menumpuk berupa paper case studies, minor thesis dan laporan - laporan praktikum. Now, I come back and ready for blogwalking. Siap beredar, Insya Allah.

Di kala mengerjakan minor thesis, saya cukup tertarik membaca paper dari Frank W. Geels dan Wim A. Smith yang berjudul “Failed technology futures: pitfalls and lessons from a historical survey” yang bisa anda baca di Jurnal Futures No 32 (2000) pp 867-885. melalui www.elsevier.com/locate/futures. Kedua penulis bercerita tentang proyeksi revolusi teknologi informasi di masa lalu yang memimpikan bahwa masa depan (alias sekarang) akan sangat dipengaruhi oleh ICT (Information and Communication Technologies) yang akan merubah pola mobilitas umat manusia. Tingkat kemacetan diramalkan akan turun dengan semakin mudahnya komunikasi. Akan tetapi, ternyata waktu yang dihemat oleh adanya penggunaan sarana komunikasi tersebut dikompensasi dengan kebutuhan perjalanan yang lain seperti rekreasi. Akibatnya, kemacetan tetap saja sama tingkatannya. Dari paper tersebut dapat disimpulkan bahwa ada muatan sosial yang tidak boleh diabaikan dalam mengkaji dampak dan peran baru suatu teknologi.

Nah, sekarang kita ambil contoh nyata. Untuk membeli barang seperti baju atau kamera, bukankah kita bisa memesannya online dari internet, apalagi di Eropa sini. Bukankah anda tidak perlu membuang waktu ke mall yang bisa anda gunakan untuk kegiatan lain (blogwalking misalnya). Contoh yang lain, di sini para mahasiswa memenuhi perpustakaan untuk belajar dan mencari referensi, padahal isi perpustakaan bisa mereka akses dari apartemen. Selain itu, di WUR tempat saya kuliah ini, bahan kuliah sudah diberikan online sebelumnya (malah lengkap dengan jawaban soal latihan dan kisi – kisi ujian) dan tidak ada peraturan seseorang harus memenuhi tingkat kehadiran tertentu di kelas, bebas merdeka bagi anda untuk tidak hadir tetapi nyatanya tingkat kehadiran sangat tinggi. Dan contoh terakhir sebagian Dblogger tentu menyenangi temu kangen, kopi darat, kumpul bareng Dblogger bukan, walaupun kita secara maya sering bertemu.

Permasalahannya bukan apa yang bisa digantikan teknologi atau apa yang tidak bisa digantikan teknologi. Teknologi bersifat netral. Nah, tingkat ketergantian kegiatan manusia itu terkait dengan teknologi tdak terlepas dari ada tidaknya atau seberapa besar muatan sosial dari kegiatan itu.

Contohnya, kalau kita kepepet oleh waktu untuk memesan kamera online dari internet dan kita percaya terhadap mutu dan keamanan pembayarannya, mengapa membuang waktu yang berharga dengan jalan – jalan ke mall. Dalam kasus kepepet ini, fungsi sosial dari belanja online dapat diabaikan. Nah, banyak kasus terjadi sebaliknya, anda bisa beli kamera atau baju secara online tetapi anda tetap memaksa ke mall. Hal ini karena muatan sosial dari kegiatan belanja itu tidak hanya belanja, tetapi ada social practices yang lain seperti rekreasi, cuci mata, nengok cewek – cewek cakep atau sekadar melepaskan kepenatan rutinitas hidup.

Kegiatan kuliah online umumnya tidak bisa menggantikan kuliah konvensional selama prinsip tekanan waktu tidak berlaku. Selain datang ke ruangan kelas untuk belajar dan mendengarkan kuliah dan diskusi (yang sebenarnya semua bahannya sudah anda dapat waktu registrasi dan bisa didownload online), kegiatan datang ke ruangan kelas punya muatan sosial yang lain. Mengenal teman, mengenal dosen, mengikuti dinamika diskusi dan sebagainya.

Untuk kasus blogging misalnya, fungsi citizen journalism sudah dipenuhi oleh blogging, dan anda bisa mendapat banyak informasi dari postingan – postingan yang ada. Akan tetapi, pada sejumlah kasus, blogging juga mempunyai muatan sosialnya sendiri, menjadi sebuah ajang pertemanan dan silaturrahmi. Semakin tinggi pengaruh dan kebutuhan terhadap fungsi muatan sosial ini, semakin tinggi kebutuhan para blogger untuk bertemu, kopi darat, temu kangen atau apalah istilahnya.

Nah, sekaligus survey nih, menurut pendapat teman – teman, apakah fungsi blogging bagi teman – teman sebagai pribadi?

Wageningen, Gelderland, 03 Feb 2009

Kalau Jakarta Tenggelam Nanti, Siapa Yang Mikirin?

Filed under: 1, Renungan — Murid at 9:10 pm on Sunday, January 4, 2009  Tagged , ,

Kemarin (Sabtu, 3 Januari 2009) saya ikut rombongan teman - teman jurusan Agricultural and Bioresource Engineering Wageningen University and Research jalan - jalan ke Rotterdam dan Leiden. Tujuan acara ini adalah mengenalkan Belanda (dan teknologinya) ke mahasiswa asing. Mumpung gratis, walaupun suhu udara di bawah 0 derajat celcius paginya, hajar terus, kapan lagi jalan - jalan gratis.

Biasalah, yang mereka unggulkan kalau enggak Pertanian ya Teknik Sipilnya. The journey began. Kami kumpul jam 8 pagi sesuai jadwal dan menunggu mobil sewaan dari Ede. Akhirnya berangkat jam 8.30 dari Forum Building WUR, Wageningen. Tujuan pertama langsung ke Rotterdam. Selama di jalan saya cuma melek setengah jam dan selebihnya bobo (masih ngantuk berat bo, malamnya main di www.viwawa.com sampai jam 2 malam :D ). Kami singgah di sebuah greenhouse modern di Belanda. Ini dia foto - fotonya:

greenhouse.JPGgreenhouse1.JPGgreenhouse2.JPG 

 Disusun dan ditata rapi

 greenhouse-1.JPGgreenhouse3.JPG

Semua diperhitungkan termasuk kemudahan mobilitas angkat, susun, dan panen

Di Greenhouse ini kami langsung dipandu oleh pemilik perusahaan (langsung Direkturnya bro), yang menerangkan aspek manajemen greenhouse modern. Perhitungan ekonomi di sini benar - benar detail, termasuk keputusan menjual listrik yang dihasilkan pembangkit milik greenhouse ke pasar domestik, atau membeli listrik dari perusahaan listrik (dan hal ini bergantian tergantung harga listrik dan minyak), bahkan CO2 dari pembakaran pembangkit benar - benar digunakan kembali ke greenhouse (untuk tambahan suplai CO2 bagi tumbuhan, to accelerate growth). Kami belajar manajemen yang efisien untuk memonitor kerja pekerja (upah di Belanda mahal bo), efisiensi pekerja, sistem insentif untuk meningkatkan produktivitas dan manajemen pemasaran. Suatu hal yang perlu diperhatikan, tekanan untuk menjaga kualitas dan mengurangi penggunaan pestisida justru datang dari konsumen besar, yaitu supermaket - supermaket besar. Pemilik perusahaan menyatakan bahwa investasi greenhouse yang besar (200 Euro per meter persegi) membutuhkan manajemen dan perhitungan yang matang, mengingat harga komoditas pertanian yang cenderung menurun, biaya produksi yang cenderung meningkat setiap tahun serta tuntutan pasar dan konsumen yang semakin ketat. Teknologi yang handal harus didukung manajemen yang handal dan monitoring manusia yang handal pula…(it is the man behind the gun you must focus on, not the gun itself). Kunjungan diakhiri dengan acara foto -foto dan minum kopi. Sebelum minum kopi, si Pengusaha Belanda itu (yang juga punya ‘kebun’ di Spanyol, Portugal, selain tempat - tempat lain di Belanda) berpesan, “Jika kalian berbisnis, rencanakan dengan matang, pilih bidang yang sudah familiar dengan kita atau yang  kita senangi, optimislah, kerja keras dan bersabarlah di awal“. Itu saja kata doski….

 100_2184.JPG

Sebagian teman - teman sejurusan peserta tur yang sedang ngopi bareng habis keliling greenhouse (si Jimmy kelihatan giginya doang)……Gua nggak ada di foto, soalna yang motretna sayah…(Yang punya perusahaan adalah bule berambut pirang yang di belakang tengah berbaju hitam)

Sebenarnya kurang sesuai jika kita bandingkan pertanian Belanda dengan pertanian Indonesia dari sisi agronomi karena agroklimatnya sudah berbeda, tetapi yang kita pelajari di sini adalah manajemennya, bagaimana menjalankan usaha tani modern yang kompetitif di tengah globalisasi pasar pertanian. Upah buruh yang murah di Indonesia ternyata belum bisa menjadi keunggulan kompetitif kita (competitive advantage) untuk memajukan pertanian Indonesia. Ternyata di balik upah buruh yang penting adalah bagaimana menjaga produktivitas pekerja dan monitoringnya. Belanda dengan pajak yang tinggi serta upah buruh yang tinggi masih bisa menjadikan pertanian sebagai andalan ekspornya, didukung dengan manajemen usaha tani yang handal sebagai kunci suksesnya (kalau ngomong teknologi pertanian, USA dan negara Eropa lain seperti Perancis juga maju).

Selanjutnya kami ke Rotterdam untuk melihat bagaimana Kumpeni - Kumpeni ini mengatasi laut dan melindungi pusat pendapatan dan perputaran uang Belanda, kota Rotterdam. Orang Belanda sangat handal dalam teknik sipil, karena tantangan alam yang harus mereka hadapi mengakibatkan mereka harus berpikir keras bagaimana melindungi tempat tinggal mereka dan menyediakan prasarana pendukungnya. Mengatasi laut, mengatasi kiriman air dari Sungai Maas dan anak Sungai Rhine, men-support pertanian dan menyediakan air bersih dan sanitasi bagi penduduknya. Laut nggak bisa ditutup total karena ada air dari Sungai Maas dan Rhine yang harus dialirkan ke laut, so, bagaimana membuat benteng laut yang bisa mengkompromikan dua hal ini (nggak ditutup habis, tapi bisa mengatasi tinggi puncak air laut yang bisa menenggelamkan kota - kota Belanda sekaligus bisa juga membuang air sungainya ke laut). Nah, di Rotterdam, nggak mungkin  konstruksi pintu air dilaksanakan sambil menutup atau mengganggu aktivitas pelabuhan (kalau pelabuhan Rotterdam ditutup, sama artinya dengan membunuh ekonomi Belanda, maklum putaran uang terbesar Belanda di kota ini). Di situlah tantangannya…

Kami dipandu oleh pegawai Dep PU dan Pengairannya Provinsi Zuid - Holland (Provinsi Holland Selatan). Pertama mereka menayangkan video bagaimana mengkonstruksi pintu laut Rotterdam yang sistem dry dock buka tutup itu. Duh, serasa belajar mata kuliah Structural Engineering lagi sewaktu S-1 dulu (salah satu kuliah Teknik Sipil umum yang sering menjadi momok bagi kami anak Teknik Lingkungan). Video ini cukup detail tetapi sangat menarik dan tidak membosankan, walaupun mirip kuliah. Lumayanlah, jadi sedikit banyak mengerti bagaimana prosedur mereka mulai dari merencanakan, mempersiapkan material yang dibutuhkan (bahan bangunan), dan tahapan - tahapan konstruksinya sampai selesai.

Pintu air ini didesain melindungi Rotterdam lebih dari 100 tahun ke depan selain  dari siklus pasang laut 5 atau 7 tahunan juga untuk skenario terburuk global warming yang menaikkan tinggi muka air laut. Setelah penayangan video, kami melihat simulasi kerjanya. Berikut ini foto - fotonya….

 100_2189.JPG 100_2195.JPG

 100_2197.JPG 100_2204.JPG

Bangunan aslinya….                                                                      Kota Rotterdam dari Pantai

 

 100_2199.JPG 100_2200.JPG 100_2202.JPG 100_2203.JPG           

Simulasi pencegahan banjir dari naiknya luapan air laut. Pintu air ini enggak ditutup semua, ada space 80 cm sewaktu menutup (coba kira - kira kenapa disisakan space 80 cm dalam kenyataannya..ayo, yang anak Teknik Sipil/Teknik Pengairan/Teknik Lingkungan, coba jawab kuisnya he he he……). Intinya justru jangan ditutup habis, ayo kenapa (catatan:konstruksi baja telah memperhitungkan beban tekanan horizontal air dari dua arah)?

Masalah Rotterdam mirip Jakarta, ancaman banjir kiriman dari hulu juga ada, banjir dari laut apalagi,  sementara intrusi air laut jelas menjadi ancaman suplai air bersih.  Nah, bagaimana mengatur ini semua diperlukan manajemen yang handal. Sekitar setengah jam kami mendengar kuliah dari si pegawai tersebut tentang prinsip - prinsip manajemen pencegahan banjir dari dua arah (sungai di hulu dan air laut) di Belanda dan juga manajemen air bersih di Belanda. Lagi - lagi, dia menekankan pentingnya perencanaan teknis yang juga memperhitungkan resiko sosial dan pelibatan aktif masyarakat dalam desain, mengkomunikasikan secara baik detail proyek ke pembayar pajak sehingga mereka merasa memiliki. Satu lagi, mental yakin (kita pasti bisa) dan pantang menyerah, katanya.

Nah, kalau Jakarta, sekarang bagaimana ya, apakah 25, 50, 75 atau 100 tahun ke depan Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan sebagian besar Jakarta Barat dan Jakarta Timur masih ada? Seperti Rotterdam, uang berputar di negeri yang bernama Indonesia konon 70%nya di Jakarta ini.

Setelah menghadiri kuliah ‘Introduction to Civil and Environmental Engineering 101′ di Rotterdam, kami bertolak ke Leiden untuk belajar sedikit sejarah Belanda (di kota ini juga anda bisa mempelajari sejarah Indonesia dari dokumen - dokumen sejarah maupun peninggalan - peninggalan kuno tentang Indonesia yang banyak tersimpan di Leiden). Kami dipandu langsung seorang Gilde (pemandu wisata resmi) kota Leiden yang menunggu kami di bekas menara jaga Sungai Rhein di kota Leiden (benar - benar turis resmi he he he, dipandu ‘petugas resmi melulu’ dan gratis).

Leiden adalah kota lama sejak zaman Romawi. Si Gilde kemudian menerangkan sejarah kota Leiden yang pada tahun 800 an merupakan perkampungan petani di pinggir sungai Rhein, sejarah Count of Holland, sejarah menara jaga Sungai Rhine, sejarah industri kota Leiden dan deklarasi ‘kemerdekaan Belanda dari Spanyol’ oleh Pangeran Willem van Oranje I di Leiden.

Yang menarik adalah kisah 20 keluarga pengungsi asal Inggris (kelompok ini keturunannya mayoritas orang terkenal di USA) yang mengungsi ke Leiden tahun 1600 an. Kami keliling ke bekas perkampungan mereka. Kelompok ini adalah perintis koloni Inggris di daerah USA sekarang dan keturunannya sebagian adalah para pendiri awal kemerdekaan Amerika Serikat. Banyak keturunannya yang  menjadi tokoh di USA sekarang, termasuk beberapa mantan Presiden. Ketika Si Gilde menerangkan bahwa leluhur si George ‘dilempar sepatu’ Bush juga berasal dari kelompok pengungsi Leiden, justru mahasiswa Belanda asal Leiden yang protes berat, dia nggak mau kota kelahirannya dikotori dan ‘dibuat malu’ dengan nama keluarga Bush ini, katanya. Si George Bush junior kurang populer juga di banyak kalangan bule - bule Belanda. Jangan - jangan dia bisa dilempari sepatu juga.

Kota ini kelahiran filsuf Belanda Erasmus dan pelukis Reimbardt. Di sini Universitas pertama Belanda didirikan oleh Pangeran Willem van Oranje I.

Kami keliling ke bangunan - bangunan tua kota Leiden, istana Count of Holland, Gereja Tua, Rumah Yatim Piatu, dan beberapa tempat pelaksanaan eksekusi hukuman. Dahulu, di Leiden masa 1800an ke bawah, bagi pencuri hukumnya dipotong tangan di lapangan eksekusi, mirip hukum Islam ternyata. Pembunuh hukumnya juga dibunuh. Hukuman terakhir yang dilaksanakan di depan umum tahun 1860 adalah hukuman mati bagi seorang anak remaja yang mencuri di rumah seorang petani dan membunuh anak perempuan si petani yang memergokinya.

Berikut ini beberapa foto - fotonya….

100_2210.JPG 100_2213.JPG

 Gereja tua kota Leiden dari menara jaga       Menara jaga Sungai Rhein Kota Leiden

100_2212.JPG 100_2211.JPG

 Saya mejeng di pintu menara jaga                    Meneer Frans (jaket merah), Gilde kota Leiden

 100_2207.JPG 100_2208.JPG

 Pinggir anak Sungai Rhein, Leiden

 100_2215.JPG100_2237.JPG

 Gerbang masuk pintu jaga                                       Menara Gereja ‘ menjelang malam hari’ (masih jam 5 kok)

100_22211.JPG 100_2241.JPG

Leiden kala senja (foto diambil dari coffee shop, pantulan blitz ke kaca)   Kanan : Makan malam di restoran

Sewaktu makan malam di restoran, teman - teman saya banyak membahas perbandingan pendidikan teknik di Belanda dan negara mereka. Intinya, dari kemampuan SDM sebenarnya negara - negara Asia dan Afrika tidak ketinggalan, cukup merata dan ‘lebih rajin’. Cuma keunggulan pendidikannya di sini adalah budaya banyak bertanya, keterbukaan terhadap pertanyaan (tidak ada pertanyaan bodoh), mengerjakan ‘tugas’ secara detail, tuntas dan menyeluruh, serta budaya saya yakin/saya bisa dan optimisme. Jadi, yang berbeda bukan kemampuan pikirannya, tetapi pola pikirnya.

Jimmy dari Uganda juga menyatakan tidak semua hal dapat ditiru dari Belanda. Pelegalan homoseksual, pelegalan ganja, pelegalan pelacuran adalah hal yang menyimpang yang tidak usah ‘kita’ tiru. Hal - hal yang baik kita pelajari dan kita proyeksikan bagaimana caranya untuk menerapkan di tempat asal masing - masing. Hal - hal yang tidak sesuai kita tinggalkan.

Alhamdulillah, benar - benar perjalanan yang menyenangkan. Gratis, menambah wawasan dan juga refreshing ilmu pengetahuan (teknik pertanian, teknik sipil dan lingkungan serta sejarah/politik)

Pertanyaan:

1. Kira - kira kalau anda punya 15 milyar rupiah (1 juta Euro), apa rencana bisnis anda?

2. Kalau ibukota pemerintahan dipindah dari Jakarta, di mana sebaiknya menurut anda?

 

 

Wageningen, Gelderland, 04 Januari 2009

 

 Catatan: Buat Cyperus, yang rajin belajar bahasa Inggrisnya….anda cocok belajar pertanian di sini.

Mungkin setelah master degree, bung Cyper bisa buat PhD thesis berjudul “Efek muka seram dalam pengendalian hama terpadu”

 

 

 

 

Kalau Ada Dijual Tahun Bekas Gua Beli Deh……

Filed under: Renungan — Murid at 4:36 am on Thursday, January 1, 2009

Dum dum dum, tuiiiinggggg, kembang api terdengar dari kamarku di lantai 19 apartemenku di Wageningen ini. Dari kamar bisa memandang sebagian besar kota. Entah kenapa, 3 tahun belakangan ini suasana tahun baru tidak terasa istimewa bagiku. Tahun hanyalah menandakan sebuah siklus sekaligus perjalanan maju. Tak terasa diri semakin tua. Sedih rasanya. Terus terang saja, jika waktu dapat diputar kembali, impianku adalah kembali ke masa - masa TK dan SD dahulu, masa- masa paling bahagia (bukan masa SMA).

Jam 8.27 malam sebelum tahun baru, temanku mengajak ikut acara makan – makan orang Indonesia di lantai 9. Akhirnya ada juga perayaan tahun baru kali ini di apartemen kami di Bornsesteeg, Wageningen. Menunya pas sekali dengan menu kesukaan saya, udang for sure. Acara diisi main kartu, dan acara mendengarkan lagu nostalgia by request masing – masing orang. Baru kali ini kami melihat kembang api tahun baru di Eropa. Untuk mengenang momen pada peristiwa ini, kami berfoto bersama.

Jam, detik, tanggal, bulan, tahun, dan abad, mereka hanya angka – angka tanpa makna. Kitalah yang memberi makna pada suatu peristiwa. Makna dari peristiwa itulah yang menyebabkan sebuah ‘waktu’ terasa istimewa. Momennya, bukan angkanya. It is the moment, not the number. Ada sesuatu yang dikenang. Contohnya, jika anda pergi ke Pantai Kuta Bali untuk bulan madu dibandingkan dengan perjalanan dinas, nilai kenangannya tentu berbeda.

Waktu adalah komoditas yang kita pertukarkan dengan apapun di dunia ini, dan sayangnya tidak bisa kita beli bekasnya.

Waktu itu kita tukarkan untuk:

·         Bekerja/Beraktivitas/Beribadah

·         Istirahat

·         Beramal untuk Dunia ataupun Akhirat

Apapun yang dilakukan sebenarnya adalah bagaimana kita menukar jatah waktu kita. Kita bekerja dengan orang lain berarti ‘menjual waktu kita’ kepada orang tersebut dan orang tersebut menggantinya dengan sejumlah uang untuk waktu yang ditukarkan. Jika kita tidak bekerja, waktu itu bisa kita gunakan untuk aktivitas lain.

Keberkahan waktu adalah rahmat Tuhan yang sangat kita harapkan. Jika anda memiliki waktu 2 bulan yang diisi dengan berbagai pengalaman yang membawa wawasan baru dibandingkan dengan 2 bulan yang dihabiskan dengan santai – santai di rumah tentu berbeda nilainya. Lima detik dengan perbuatan ikhlas tentu lebih berharga daripada 5 tahun berlalu dalam hidup ini. Pengalaman kerja 2 tahun di mana anda belajar banyak hal berbeda dengan pengalaman kerja 2 tahun di mana anda cuma sekadar menunaikan kewajiban mengisi daftar hadir di kantor. Orang yang bekerja 4 tahun tetapi menguasai banyak keterampilan tentu berbeda dengan yang bekerja 15 tahun tetapi cuma sekadar survive di kantor. Apa yang kita peroleh selama waktu berlalulah yang membedakan.

Kita hanya bisa ‘membeli waktu orang lain’, tetapi kita tidak bisa membeli waktu kita yang hilang. Waktu orang lain yang kita beli tetap tidak bisa mengganti waktu kita yang hilang.

Jika saya boleh membeli waktu, saya pingin kembali ke masa – masa TK dan SD saya dahulu. Masa belajar, bermain – main dan riang gembira. Dunia ini terasa indah dan menyenangkan. Andai saja ada mesin waktu

Terus terang, manajemen waktu saya masih amburadul. Saya berharap dapat lebih disiplin tahun ini.

 “Ya Tuhan, berikanlah keberkahan pada waktu – waktu yang kami lalui.  Amiin”

 SELAMAT TAHUN BARU, SEMOGA TUHAN MEMBERKAHI WAKTU YANG AKAN KITA LALUI

 

Pertanyaan:

1.      Jika anda diberi jatah mengulang masa lalu selama 4 tahun, masa kapan yang anda ingin ulang,

         atau jika ada mesin waktu, anda ingin pergi ke tahun berapa, pingin ngapain aja, dan kenapa?

Wageningen, Gelderland, 1 Januari 2009

Next Page »